Senin, 08 Juli 2013

0

Sejarah Fakultas Sastra

Fakultas Sastra 
Berdiri atas prakarsa Yayasan Fakultas-Fakultas Nusa Tenggara, yang diketahui oleh Letkol Minggoe dan Wakil Ketua I, Gubernur Sunda Kecil, Teuku Mochamad Daoedsjah.  Yayasan ini bekerja sama dengan orang-orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang ilmu sastra, seperti Dr. R. Goris, Dr. Ida Bagus Mantra dan I Gusti Ketut Ranuh.  Orang-orang ini, selain mempersiapkan hal yang berkenaan dengan segi fisik, bergerak juga sebagai penghubung, untuk mendapatkan orang-orang yang akan dijadikan dosen (tenaga pengajar), terutama orang yang akan dijadikan pimpinan pada fakultas yang akan dibentuk.  Orang yang berhasil  dihubungi, yang akan dijadikan pimpinan adalah Prof. Dr. Poerbatjaraka, yang kala itu menjadi Dekan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.  Tenaga-tenaga pengajar yang berhasil dihubungi, terutama tenaga-tenaga yang telah bergelar doktor dan telah memperoleh nama internasional karena prestasi ilmiahnya pada waktu itu, adalah (1) Prof. Dr. Poerbatjaraka, (2) Dr. R. Goris, (3) Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, dan (4) Prof. Dr. Swami Ajarananda.
Setelah rampungnya segala persiapan maka ditetapkanlah hari pembukaannya, yaitu pada tanggal 29 September 1958.  Nama yang diberikan adalah Fakultas Sastra Udayana. Namun rencana nama semula adalah Udayana Fakultas Sastra dan Budaya.  Kata Budaya kemudian dihilangkan atas anjuran Prof. Dr. Prijono, karena dengan kata Sastra saja sudah terkandung arti Budaya.  Jadi, istilah sastra mengandung arti yang sangat luas.
Pada awal berdirinya (September – Desember 1958), Fakultas Sastra Udayana diasuh oleh Yayasan Fakultas-Fakultas Nusa Tenggara, namun mulai tanggal 1 Januari 1959 secara resmi menjadi bagian Universitas Airlangga.  Sejak saat itu Fakultas Sastra Udayana namanya berubah menjadi Fakultas Sastra hingga sekarang.
Saat ini, Fakultas Sastra Universitas Udayana semakin menunjukkan jati dirinya sebagai fakultas sastra dan ilmu-ilmu budaya sebagaimana terrefleksi dari tampilan bangunan lobinya yang syarat dengan nuansa filosofis yang menjadi landasan filosifis peri kehidupan masyarakat Bali. Dengan terpampangnya hiasan yang bertemakan pemutaran mandara giri pada hiasan gelung kuri di bangian depan bangunan lobi, dengan tegaknya patung Dewi Saraswati di ruang lobi tersebut, dan dengan terpasang secara anggun dua buah prasasti pendirian fakultas tercinta ini diharapkan semua ini dapat menjadi sumber inspirasi yang semakin mantap menuju keberhasilan yang semakin gemilang, yaitu keberhasilan karena ada kemauan yang kuat untuk memahami kesinambungan masa lampau dengan masa sekarang menuju masa depan yang makin cerah

0 komentar:

Poskan Komentar