Kamis, 28 November 2013

0

Musikalisasi Puisi (Reinkarnasi Budaya)





SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU
(Untuk puteraku, Isaias Sadewa)
Oleh :
W.S. Rendra
Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.
Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya.
Hatinya damai,
di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
karena ia telah lunas
menjalani kewjiban dan kewajarannya.
Setelah ia wafat
apakah petani-petani akan tetap menderita,
dan para wanita kampung
tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ?
Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.
Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya
ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.
Saat itu ia mendengar
nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.
Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa.
Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.
Di saat badan berlumur darah,
jiwa duduk di atas teratai.
Ketika ibu-ibu meratap
dan mengurap rambut mereka dengan debu,
roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala
untuk menanam benih
agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas
– dari zaman ke zaman




Puisi Sanusi Pane
DIBAWA GELOMBANG

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah kemana aku tak tahu

Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad-abad
Dengan damai mereka meninjau
Kehidupan bumi yang kecil amat

Aku bernyanyi dengan suara
Seperti bisikan angin di daun
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralun-alun

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah kemana aku tak tahu





Sajak UMBU LANDU PARANGGI : MELODIA
Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali
bertahan
Karena sajak pun sanggup merangkup duka gelisah
kehidupan
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi
suara suara dunia luar sana
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa
langkah kemana saja

karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati
pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti
kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari
tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran
waktu

takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi
dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian
melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal,
penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam
manja bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan
dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja
harapan dan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi
dan kedua tangan





Karawang-Bekasi
karya: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)





Wayan ‘Jengki’ Sunarta

Muara Waktu

dari darah dan air mata
aku susuri jalan yang kau buka
                        dengan perih
di lengan malam
            kau panjatkan diam
aku tengadah kaku:
bintang meluncur menuju
                        muara waktu
dari mana aku
mau ke mana aku

kau menyembul dari rekah tanah
menjelma kematian dalam kematian
tangis bayi di lapar mulut malam
melebur haruku pada arus terakhir nafasmu
            siapa akan meruwat
            jagat yang sekarat?

biarkan aku mengigau
sampai jauh memburu jejak kasihmu
            hingga batas penghabisan hayatku
biarlah bintang yang jadi isyarat perjalananmu
                        lebur dalam kering nadiku

dari darah dan air mata
    aku berkayuh
menuju muara waktu
(1995)

0 komentar:

Poskan Komentar